5 Sep 2011

Aku tidak mempunyai mental menjadi seorang Pemudik


Hanya ada satu kata buat para pemudik, “…Bravo..”!!!

Mudik bukan pekerjaan yang ringan, memerlukan mental dan stamina yang prima.
Awalnya saya berpikiran mudik hanyalah pekerjaan pulang kampung, bertemu saudara-saudara dan kerabat bahkan teman-teman sedaerah saja. Ternyata proses mudiknya itu yang membuat saya salut dan takjub..!
Anda dapat bayangkan, dengan kondisi saat ini, dengan banyaknya kendaraan, baik roda dua maupun roda empat di jalanan dan kondisi jalan yang tidak merata bagusnya, mudik adalah pilihan yang selalu diambil setiap tahunnya.

Sekembalinya dari Kudus,  sekitar pukul 09.17 berangkat menyelusuri jalan yang bagus dan lebar, (sebagian besar jalanan di Jawa Tengah bagus dan jarang berlubang, saya tinggal di Jawa Barat, Bandung..ampuuun sedikit sekali ditemukan jalanan bagus).
Perjalanan lancar sampai Semarang, saya singgah di Lawang Sewu, ini tempat wisata peninggalan jaman Belanda, yang konon kabarnya mempunyai seribu pintu. Apakah betul jumlah pintunya seribu atau hanya sekadar penamaan saja, karena memang jumlah pintunya banyak sekali. Jaman dahulu Gedung ini digunakan oleh jawatan Kereta Api Belanda dan saat ini juga digunakan oleh PT. KAI (Kereta Api Indonesia).
Sekitar pukul 13.03, saya meninggalkan kota Semarang menuju Bandung…Inilah awalnya saya merasakan betapa beratnya menjadi seorang pemudik.
Kurang lebih pukul 14.35 sampai di daerah Batang dan macet..!!! Tadinya saya berpikir ini ada pasar tumpah, maksudnya pasar yang melebihi atau berada di sisi jalan. Jalan perlahan, perlahan dan perlahan sampai akhirnya berhenti. Di kanan, dua jajar mobil, di kiri satu mobil dan motor. Motor dan mobil  tanpa basa basi merangsek ke depan, tanpa basa basi, tanpa sopan santun dan tanpa belas kasihan, siapa yang menang dia akan sampai di tujuan terlebih dahulu. Dan saya berpikir, urusan keselamatan bukan lagi prioritas utama. Wajar saja setiap libur mudik lebaran kecelakaan lalulintas di jalan raya setiap tahunnya meningkat. Ini sangat disayangkan.
Masuk Pekalongan matahari sudah tidak menampakkan wajahnya, mungkin lelah karena seharian menemaniku dan menerangiku. Sementara itu saya terbawa arus pemudik, serobot sana, serobot kiri, di mana ada tempat lowong, masuk..! Dan saya merasakan ketegangan dan stress, tadinya saya berpikir hanya sekedar pasar tumpah atau penyeberang jalan yang menyebabkan jalan macet, ternyata bukan hanya sekedar itu. Jumlah kendaraan yang berlimpah, baik roda dua maupun roda empat..hm..hm..makmurlah negeriku ini..!

Kondisi jalan tidak lebih baik dari sebelumnya, Pekalongan – Tegal juga sama, macet dan macet…pengendara motor dan mobil semakin perkasa, tancap gas..tidak peduli jalan bagus atau tidak, jalan lebar atau sempit, sepanjang ada kesempatan tancaaap..!! Waktu sudah menunjukkan pukul 21.15 terlihat pengendar motor dan mobil banyak terparkir di sisi jalan atau di lapang terbuka untuk istirahat. Saya pun sama..isi bahan bakar dan isi perut, sedikit kopi untuk membuka mata supaya tidak lelah.
Memasuki Tegal – Brebes sudah menunjukkan pukul  22.27, pemandangan yang indah di lihat di setiap tempat persinggahan, motor dan mobil terparkir dengan rapih, pengendaranya istirahat sambil merebahkan badannya. Sesekali bergantian dengan yang lain untuk menjaga barang bawaannya. Semakin malam, bukan semakin sepi tapi semakin meriah, saya berpikir dengan banyaknya yang beristirahat, maka jalanan sepi, ternyata salah…Ini menggambarkan betapa banyaknya pemudik. Yang menarik, para pemudik kalau rasa lelah tidak tertahan, jangan Tanya, dimana mereka akan istirahat, dipelataran teras rumah siapapun akan dimanfaatkan. Tidak peduli yang empunya rumah ada atau tidak ada. Apalagi yang ada kursi panjang…nikmaaat buat tiduran, walaupun di depan teras.
Terasa letih dan lelah, perjalanan Tegal – Brebes yang biasanya ditempuh kurang lebih 15 menit, ini lebih dari satu jam. Masuk kota Brebes ada harapan, karena ada jalan Tol Pejagan Kanci. Ternyata untuk memasuki jalan tol saja harus ditempuh dengan waktu 2 jam.
Singkat cerita, saya masuk jalan Tol Pejagan, dan dari Tol Pejagan sampai Indramayu (Losarang) memerlukan waktu 1.30 Jam, pada saat berangkat. Hati ini mulai segar dan senang dengan harapan ini. Tapi nyatanya….keluar Tol Palimanan sampai daerah Kertasmaya, Lohbener/Celeng sampai Larangan..macet..! Padahal waktu menunjukkan pukul 00.16..Saya sudah mulai bosan dan frustasi, ini yang dicari..? Sampai akhirnya tepat pukul 01.15 saya sampai rumah..alhamdulillah….
Saya tidak dapat membayangkannya, saya saat ini empati dan simpati untuk para pemudik, begitu beratnya perjalanan mudik itu, tapi mudik tanpa halangan dan rintangannya bukan mudik. Mudik adalah ciri khas bangsa ini untuk survive…saya tidak dapat meneruskan cerita ini karena sudah lelaaaaaahhhh.

(Foto diambil dari harian Tribun Jabar hari Senin, 5 September 2011, kecuali foto Puskesmas Losarang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar